
”Ritual Selametan Telabah Tradisi petani yang ditinggal selama 10 tahun” 2010-01-14 Hampir 10 tahun petani di Lombok Utara tak pernah mengadakan ritual "Selametan Telabah" atau upacara selamatan saluran irigasi.
Baru kali ini ritual itu diselenggarakan oleh petani Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Senin (28/12/09). Ini sebagai ungkapan rasa syukur petani atas limpahan nikmat yang diberikan Tuhan atas hasil panen selama ini.
Mambil membaca mantera, Amaq Ropil (50 tahun) duduk di atas saluran kiri Bendungan Pekatan meletakkan kepala kerbau di saluran setempat. Tak hanya kepala kerbau, ikut ditaruh juga sejumlah sesaji berupa makanan kering dan lainnya sebagai puncak dari ritual selametan Telabah. Diiringi kesenian tradisional tawaq-tawaq Amaq Ropil di antar ratusan petani dan pejabat yang menghadiri acara itu ke saluran irigasi kiri Pekatan yang lokasinya tak jaduh dari tempat acara di Dasan Tengak, Desa Jenggala.
Ritual ini diadakan sebagai ungkapan rasa syukur petani atas hasil pertanian yang diperoleh selama ini. Ia tak mengetahui pasti mengapa petani tak mengadakan upacara ini selama 10 tahun, namun baru kali ini menyelenggarakan ritual tersebut.
Menurut Ropil, semasih ia kecil acara ini sering diadakan oleh petani
sebagai rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. guna melestarikan ritual ini, petani sepakat akan mengadakan acara ini tiga tahun sekali secara gotong royong.
Panitia penyelenggara, Nuriadi menjelaskan acara ini diselenggarakan atas kemauan petani yang tergabung dalam kelompok tani (gapoktan) Prabasari dan Tirtonadi. Acara ini juga sebagai upaya agar air irigasi tetap dijaga untuk kebutuhan tanaman dan yang lainnya.. (Suara NTB)
|