
" Kegiatan Pundi Amal Samanta" 2009-12-31 Anak-anak SD Dusun Pemotoh Timur Belajar Berdinding Alam, Tempat belajar menggunakan pos ronda.
Lombok Tengah (2/12), Pemerataan pendidikan di NTB khususnya di Kabupaten Lombok Tengah saat ini masih belum merata. Terutama dalam sarana dan prasarana terjadi kesenjangan antara di perkotaan dengan di daerah pedalaman seperti Dusun Pemotoh Timur, Desa Aik Berik Kecamatan Batukliang Utara. jarak dari kota praya kurang lebih sekitar 50 km.
Desa Aik Berik yang memiliki luas 82.26 km2 terdiri dari 13 dusun. salah satunya adalah Dusun Pemotoh Timur yaitu sebagai dusun terpencil dengan jumlah penduduk mencapai 994 jiwa. Di Desa Aik Berik sendiri baru memiliki satu Sekolah Dasar (SD) dan satu Sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Untuk mencapai sekolah tersebut, siswa dari Dusun Pemotoh Timur harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer. Dikarenakan alasan tersebut maka masyarakat berinisiatif mengajukan sekolah alternatif kepada pemerintah setempat, maka dibukalah sekolah dasar kecil yang menggunakan pos ronda sebagai sarana proses belajar mengajar.
Dengan kondisi lebih tepatnya sangat memprihatinkan tersebut, 26 siswa telah melakukan aktifitas belajarnya sehari-hari. Jangan harap ada ruang guru, ruang perpustakan maupun toilet. Yang ada hanya tempat belajar mengajar seadanya. Itupun tidak terdapat dinding kelas dan lantai beralaskan tanah yang sewaktu hujan sekolah akan diliburkan.
Menurut Sedah, Spd, kepala sekolah kecil tersebut alasan diadakannya sekolah ini atas inisiatif masyarakat setempat. Mengingat jarak sekolah yang ada cukup jauh, yaitu lebih kurang 2.5 kilometer sehingga banyak anak-anak yang berhalangan untuk berangkat sekolah, ‘’Bayangkan, anak sekecil itu harus melewati hutan, banyak yang takut sehingga tidak masuk sekolah,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakannya, keberadaan sekolah ini dirintis sejak tahun 2008 hingga realisasi bulan Juli 2009 baru membuka 1 kelas. Jumlah siswa yang terdaftar sampai saat ini 26 siswa yang terdiri dari 12 orang anak laki-laki dan 14 orang anak perempuan. Jumlah tenaga pengajar yang mengabdi empat orang, satu orang sebagai kepala sekolah dan tiga orang lainnya adalah guru. “Salah satu guru Sri Hastutiq rela meninggalkan keluarganya untuk mengabdi dan tinggal di dusun tersebut dengan mendapatkan imbalan bahan-bahan pokok sebagai balas jasanya,” lanjut Sedah.
Putri Mahyuni dan Gunanto dari Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara (Samanta) berkesempatan melakukan kunjungan ke tempat tersebut. Menurut Yuyun panggilan akrab Putri Mahyuni di dusun tersebut berbatasan langsung dengan hutan lindung. Mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah buruh tani dan pengelola hutan kemasyarakatan (HKm). Dusun ini berjarak kurang lebih 25 km dari kecamatan. Tidak terdapat sarana kesehatan serta sarana pendidikan yang ada sangat tidak memadai.
Pada kesempatan tersebut Samanta juga membagikan bingkisan kepada siswa sekolah berupa buku tulis dan peralatan tulis lainnya. Saat ini Samanta sedang berupaya melakukan penggalangan dana baik dari individu dalam bentuk sumbangan, zakat, infaq ataupun sadaqah maupun dari perusahaan dalam bentuk corporate social responsibility (CSR). Penggalangan dana ini diperuntukkan bagi perbaikan pendidikan, peningkatan kesehatan, perbaikan kondisi lingkungan serta pengembangan usaha ekonomi. Hal ini merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian Samanta terhadap peningkatan taraf kehidupan bagi masyarakat miskin kawasan pinggir hutan.
.
Lebih lanjut dikatakannya, bantuan tersebut dapat berupa dana maupun in natura sarana (alat tulis, tas sekolah, seragam dsb). Untuk itu bantuan dapat di salurkan melalui Rekening giro Yayasan Samanta dengan nomor rekening : 161.00000.98025 Bank Mandiri cabang cakranegara Mataram. Jl. Pejanggik no.20-22 mataram 83231 Lombok Nusatenggara Barat. Atau bisa diantarkan langsung ke kantor Samanta, Jl. Surabaya No. 5 BTN Taman Baru Mataram telp/fax: (0370) 636602 online fundraising 08113901196. jika di Lombok kami dapat menjemput ketempat anda.**
|